Sukses Pendidikan Tidak Menjamin Suksesnya Seseorang
Story & Motivasi March 11th, 2009
Jaman krisis global begini, cari kerja tidaklah mudah. Banyak yang terkena PHK, banyak yang stres karena kehilangan pekerjaannya. Sekolah tinggi belum tentu menjamin akan mendapat pekerjaan. Seperti yang ayah saya pernah katakan, “Sukses pendidikan, tidak menjamin suksesnya seseorang.” Banyak sekali orang yang saya temui bekerja sebagai salesman di took-toko dengan gelar yang mengejutkan. Bayangkan saja seorang salesman furniture di sebuah mal punya gelar sarjana teknik sipil. Ada juga salesman sofa di daerah elit bergelar MBA.
Sungguh menakutkan jika melihat kenyataan dunia ini. Sekolah tinggi dengan biaya yang tidak sedikit, dengan perjuangan yang tidak mudah, tetapi akhirnya tidak sesuai harapan dan cita-cita. Tapi menjadi sales tuh sudah sangat baik ketimbang mementingkan gengsi hingga tidak bekerja dan malah menambah beban orangtua di rumah.
Dulu saya pernah bercita-cita ingin menjadi dokter. Tetapi ayah saya bilang “…lulusan dokter ga semua sukses, liat aja dimana-mana banyak dokter yang malah ga praktek…” Tapi saya tambahkan lagi, kalau saya ingin ambil jurusan spesialis. Ayah saya bertanya lagi tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan gelar itu. Setelah saya kumpulkan beberapa informasi, setidaknya butuh 11 tahun. Terang saja ayah saya langsung terperanjat dan menolak.
“Jadi perempuan itu, harus memilih… mau pilih karir atau keluarga… tidak boleh dan tidak bisa serakah. Kalau karir, ya sulit untuk berkeluarga. Kalau mau memilih berkeluarga, ya sulit untuk berkarir… kalau kamu mau sekolah itu, setidaknya kamu baru lulus di usia 28 atau 29. Di umur segitu, perempuan susah mendapatkan jodoh loh…”.
Yah… intinya, ayah saya tidak setuju dengan ide cita-cita saya itu. Itu kejadian waktu saya baru masuk SMA. Setelah perbincangan itu, jujur saja saya langsung mengundurkan cita-cita saya. (sedihnya…) Teringat kata ayah saya, kalau sukses pendidikan tidak menjamin suksesnya seseorang. Memang ada benarnya, asalkan kita tekun, menyenangi apa yang kita kerjakan, dan bermotivasi baik di pekerjaan kita, pasti kerjaan kita dapat berjalan dengan lancar dan diberkati sama Tuhan.
Tapi di satu sisi, saya berpikir juga. Kalau tidak sekolah dulu, tidak dipupuk dulu, mana bisa sih otak langsung sukses? Walaupun banyak contohnya orang jaman dulu yang sukses tanpa pendidikan yang cukup, itu dikarenakan mereka berada di waktu yang tepat. Maksud saya, saat itu tuh sedikit sekali orang yang berpikir jauh untuk menjadi sukses dengan cara mereka. Sedangkan sekarang? Persaingan sudah sangat ketat. Jika kita tidak berbekal ilmu yang banyak, bagaimana mungkin kita berkompetisi dengan orang-orang sekitar kita. So, pinter-pinternya kita milih yang mana.
Buat saya, pendidikan itu masih termasuk penting walaupun bukan yang terpenting. Yang paling penting buat saya, asalkan niat dan bekerja dengan tekun serta didasari dengan hati yang baik, pasti bisa sukses. Buat teman seperjuangan saya (para pelajar), jangan pernah menyerah belajar. Karena belajar itu tidak pernah sia-sia. Apa yang bisa kamu pelajari dan kamu petik, pasti berguna di masa mendatang.
sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=13421
May 23rd, 2009 at 10:04 pm
Sukses…..semua orang bisa meraihnya boz.Hidup adalah pilihan tergantung kita apakah kita mendayung kehidupan kita ke arah yang bermanfaat atau hanya hidup hura-hura tergantung nahkodanya dan nahkodanya itu diri kita sendiri.Saya tidak setuju pendapat Bung Jefri “Jadi perempuan itu, harus memilih… mau pilih karir atau keluarga… tidak boleh dan tidak bisa serakah”.
Buktinya Ibu Alm. Widya walaupun dia seorang rektor BINUS yang berdedikasi tinggi tetapi beliau seorang ibu rumah tangga yang peduli terhadap keluarga sukses membangun BINUS menjadi salah satu univ yang TOP dan sukses membina keluarga yang harmonis .Menurut saya kuliah adalah suatu investasi dan tidak menjamin orang yang pintar bisa sukses dalam karir atapun keluarga ,sehingga harus terjadi balance dalam ketiga aspek tersebut
Terima Kasih